Kematian dalam Lagu Cinta Tika

Jalan setapak di bawah cahaya bulan. Sepi. Si lelaki berjalan dengan bahu rada membungkuk. Menghalau hawa dingin, jas panjang hitam ia lekatkan ke tubuh sambil mengantongi kedua telapaknya. Kerah jas pun ditegakkan, menutup belakang tengkuk.

Sesekali si lelaki menoleh ke belakang, ke arah bayangannya sendiri. Air mukanya murung. Ia tidak menyukai keberadaan sang bayangan yang begitu mencintainya. Mengikuti ke mana pun dia melangkah. Bahkan ke liang lahat.

Itulah kesan yang terbentuk waktu Saddest Farewell-nya Tika mengalun. Lirik dan musik Tika begitu muram, sendu, dan dingin. Bukan sebuah kegalauan, melainkan keputusasaan. Tidak juga menggambarkan perempuan yang dilanda kesengsaraan. Tapi sosok pria yang hilang harapan.

Continue reading