Kematian dalam Lagu Cinta Tika

Jalan setapak di bawah cahaya bulan. Sepi. Si lelaki berjalan dengan bahu rada membungkuk. Menghalau hawa dingin, jas panjang hitam ia lekatkan ke tubuh sambil mengantongi kedua telapaknya. Kerah jas pun ditegakkan, menutup belakang tengkuk.

Sesekali si lelaki menoleh ke belakang, ke arah bayangannya sendiri. Air mukanya murung. Ia tidak menyukai keberadaan sang bayangan yang begitu mencintainya. Mengikuti ke mana pun dia melangkah. Bahkan ke liang lahat.

Itulah kesan yang terbentuk waktu Saddest Farewell-nya Tika mengalun. Lirik dan musik Tika begitu muram, sendu, dan dingin. Bukan sebuah kegalauan, melainkan keputusasaan. Tidak juga menggambarkan perempuan yang dilanda kesengsaraan. Tapi sosok pria yang hilang harapan.

Continue reading

Secuil Opera dalam Frau

Setumpuk cakram padat (CD) teronggok di meja kerja saya. Kalau dihitung, ada tujuh CD berbalut masing-masing kemasan. Meski cuma tujuh, saya anggap itu bilangan yang cukup banyak untuk CD musik. Karena biasanya saya hanya bergaul dengan CD film. Dan cakram padat ini saya terima dari seorang teman, sebut saja Pak Musik.

Sebulan lebih cakram padat pinjaman tertata rapi di meja kerja saya. Bukan karena kerapian, tapi belum satu CD pun saya putar. Beberapa kali Pak Musik tanya apakah sudah saya dengar lagu-lagu dalam CD itu. Dan jawabannya selalu sama. Belum.

Merasa tak enak dengan Pak Musik yang kerap bertanya, saya putar satu cakram padat. Sesuai rekomendasi dia, terpilihlah Frau sebagai CD pertama yang saya putar.

Pertama terdengar dentingan piano. Judul lagunya, I’m a Sir. Saya belum ngeh dengan lirik lagu yang dibawakan Frau, tapi nada-nada pianonya menarik. Membuat saya menggerakan jari tangan seperti menekan tuts piano atau belagak menjadi konduktor.

Continue reading