Les Miserables, Opera dalam Layar Lebar

lesPrancis, 1815. Dikenal dengan sebutan la Métropole atau Kota Metropolitan, wajah Prancis begitu buruk kala itu. Kehidupan masyarakatnya jauh dari kata sejahtera. Di jalan-jalan, orang miskin dan pengangguran bertebaran. Dan satu orang miskin itu adalah Fantine.

Melarat, Fantine terpaksa menjual rambut dan giginya. Ia dibotaki. Giginya dicabut paksa. Dan semua demi uang beberapa puluh franc yang ia kirim ke putrinya, Cosette. Nyatanya pengorbanan itu masih kurang. Fantine terbujuk menjual diri. Lagi-lagi untuk beberapa keping uang. Dan ujungnya, ia tambah sengsara.

Di film Les Miserables, Fantine (Anne Hathaway) berkata dalam senandung lagu. Dan bukan Fantine saja yang bernyanyi, namun seluruh aktor dan aktris Les Miserables. Mereka berdialog dalam nyanyian, sambil terus bersandiwara. Lagu yang didendangkan pun memakai segala jenis suara dan gaya, seriosa serta acapela.

Sama seperti karya aslinya, di atas panggung Broadway, sutradara Tom Hooper memang mengarahkan Les Miserables dalam gaya musical, dari awal hingga penghujung film. Membuat saya serasa tengah menyaksikan opera, di layar lebar.

Aktor dan aktris yang dipilih Hooper memang bukan artis biasa. Mereka orang-orang yang mampu berperan dan memiliki kelihaian bernyanyi. Sebut saja Hugh Jackman yang menjadi Jean Valjean. Datang dari Australia, karir Jackamn berawal di atas panggung teater musikal. Bahkan ia kerap mendapat penghargan actor terbaik di teater musikal.

Kemudian ada Russell Crowe sebagai Javert. Juga datang dari Australia, Crowe pernah menjadi musisi di era 80-an. Dengan nama panggung Russ Le Roq, Crowe membawakan musik rock and roll. Ada juga Amanda Seyfried sebagai Cosette; dan Helena Bonham Carter selaku Madame Thenardier; Samantha Jane Barks menjadi Eponine; serta Eddie Redmayne sebagai Marius Pontmercy. Dan mereka semua aktor serta aktris yang piawai bernyanyi.

Meski disampaikan melalui lagu, dialog antar tokoh sangat menyatu. Lirik Jean Valjean, si mantan napi, bisa menjawab perkataan Javert, panglima tentara yang terus mengejarnya. Begitu juga sebaliknya dan dengan tokoh lain. Semua terangkai sedemikian rupa hingga mudah dicerna. Bahkan beberapa kali saya sempat bergumam, membenarkan perkataan Fantine, Jean Valjean, atau Javert.

Untuk plot, tidak bisa dipungkiri bila Victor Hugo, penulis novel Les Miserables, jenius. Dalam ceritanya, Hugo mengajarkan soal sebab-akibat dan karma, baik serta buruk. Hanya karena kebaikan hati seorang pastor, hati keras Javert bisa melembut. Menjadi walikota, pengusaha, jutawan, dan penolong orang banyak.

Hugo juga menampilkan sosok yang saklek dengan prinsipnya, Javert. Sebagai tentara, ia begitu taat hukum. Bahkan Javert dibutakan oleh hukum, menjadi semena-mena. Hanya menganggap orang kaya yang benar, miskin selalu salah. Kisah yang relevan di zaman apapun.

Yang rada membingungkan adalah munculnya lambang mata satu di Les Miserables. Identik dengan kelompok illuminati, tanda ini tersorot di adegan pemberontakan rakyat terhadap Kerajaan Prancis. Logo mata satu tampil cukup lama. Hingga menimbulkan pertanyaan, apa hubungan Les Miserables, Victor Hugo, atau revolusi Prancis dengan Illuminati? Hanya sebuah ornament atau ada maksud tertentu? Entah.

Bagi penyuka opera, drama, dan kisah sejarah, seperti revolusi Prancis, Les Miserables adalah film wajib ditonton. Namun jika tidak doyan film musikal, ada kemungkinan Anda akan seperti penonton di sebelah saya. Berkali-kali menguap dan tak sabar film cepat berakhir.

Les Miserables memang berdurasi lama, sekitar 158 menit. Sepanjang itu, babak demi babak disajikan sangat apik. Meski banyak adegan sedih, ada juga bagian yang lucu. Dan babak Fantine mengorbankan diri untuk anaknya adalah momen menggetarkan. Lebih menyentuh ketimbang adegan lain.

“Now life has killed the dream I dreamed,” Fantine bersenandung I Dreamed a Dream, usai melayani satu lelaki hidung belang.

Les Miserables
Sutradara: Tom Hooper
Pemain: Hugh Jackman
Russell Crowe
Amanda Michelle Seyfried
Anne Hathaway
Eddie Redmayne
Studio: Working Title Films
Cameron Mackintosh Ltd.
Distribusi: Universal Pictures
Durasi: 158 menit
Berdasarkan teater musical: Les Miserables

Ulasan ini telah naik di Tempo.co.

Advertisements

One thought on “Les Miserables, Opera dalam Layar Lebar

  1. I decided to leave a message here on your Les Miserables, Opera dalam Layar Lebar | cornila desyana page instead of calling you. Do you need more likes for your Facebook Fan Page? The more people that LIKE your website and fanpage on Facebook, the more credibility you will have with new visitors. It works the same for Twitter, Instagram and Youtube. When people visit your page and see that you have a lot of followers, they now want to follow you too. They too want to know what all the hype is and why all those people are following you. Get some free likes, followers, and views just for trying this service I found: http://nt4.pl/u/72

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s