Kematian dalam Lagu Cinta Tika

Jalan setapak di bawah cahaya bulan. Sepi. Si lelaki berjalan dengan bahu rada membungkuk. Menghalau hawa dingin, jas panjang hitam ia lekatkan ke tubuh sambil mengantongi kedua telapaknya. Kerah jas pun ditegakkan, menutup belakang tengkuk.

Sesekali si lelaki menoleh ke belakang, ke arah bayangannya sendiri. Air mukanya murung. Ia tidak menyukai keberadaan sang bayangan yang begitu mencintainya. Mengikuti ke mana pun dia melangkah. Bahkan ke liang lahat.

Itulah kesan yang terbentuk waktu Saddest Farewell-nya Tika mengalun. Lirik dan musik Tika begitu muram, sendu, dan dingin. Bukan sebuah kegalauan, melainkan keputusasaan. Tidak juga menggambarkan perempuan yang dilanda kesengsaraan. Tapi sosok pria yang hilang harapan.

Sebab perempuan cenderung menangis atau menumpahkan ceritanya kala bersedih. Sampai kebahagiannya kembali. Sedangkan lelaki kerap berdiam diri, menyembunyikan sakitnya sendiri. Hingga dia nelangsa. Mati.

My shadows love me
Just I like love myself
They follow to my bed
They follow to my sleep
They Follow to my grave
My shadows love me
But I don’t love my shadows

Saddest Farewell merupakan satu lagu yang digelontorkan Tika di album Defrosted Love Songs pada 2006. Direkam dalam dapur Aksara Records, Defrosted Love Songs adalah album repackaged dari Frozen Love Songs yang lahir setahun sebelumnya.

Tika, bernama lengkap Kartika Jahja, tidak menggeluti dunia musik dengan mengekor selera pasar. Membawa genre jazz dengan sentuhan blues, Tika nekat menawarkan nyanyian dengan lirik tak lazim. Bukan mengenai percintaan semata. Tapi uraian kesengsaraan. Sakit.

Cry, sad, hollow, bleed, pain, die, sorrow, brokenhearted, grieve, grave, berduka, dan kematian. Itulah serangkaian kata yang tersebar di Defrosted Love Songs. Saking banyaknya, tidak sulit mencari ungkapan muram dalam lagu Tika. Malah susah menghitung berapa jumlahnya.

Listen under your pillow, old radio still playing xylophone dream
Until we meet again and so I greet the pain
For without it we will not live again
And so I meet the pain, like sand paper against the wound
And so we bleed again, for without it we will not feel the pain

Satu lagi lagu Tika yang bernuansa gelap: My Late Ego. Diiringi ketukan drum, dentingan piano, dan petikan gitar bernuansa blues mengubah suansana menjadi sendu. Terbayang enam lelaki berkulit gelap dengan setelan jas hitam jalan beiringan.

Di belakang mereka, berdiri sesosok perempuan. Kepalanya mengenakan topi hitam berjaring laba-laba yang menutup wajahnya. Barisan lelaki melangkah ke luar gereja. Memanggul peti mati hitam. Mengantarkan jenazah seorang lelaki ke tanah makam. Sedangkan si perempuan membuntut sambil menangis.

Kenapa bukan lelaki bule atau Asia yang terlintas dalam benak waktu mendengar My Late Ego? Sebab musik blues identik dengan kulit hitam. Menetas di Semenanjung Delta Mississippi pada 1895, blues bercerita akan kehidupan budak etnis Afrika-Amerika yang bekerja sebagai buruh tani di Amerika. Karena mengalunkan lagu-lagu sedih, musik ini pun diberi nama blues.

Ada sebelas lagu dalam Defrosted Love Songs: But I Love You Though, Under Their Feet, Waiting For 2.00, Fever Fairytale, My Late Ego, Saddest Farewell, Rimbaud’s Limbo, Premortem Wound, dan Gugur Sepatu. Seantero lagu ini merupakan gubahan Tika dengan sokongan Aghi Narottama, Bembi Gusti, dan Iman Fattah. Di bagian penutupan, Tika mencemplungkan lagu You Belong to Me milik Pee Wee King, Chilton Price, dan Redd Stewart.

Hanya satu nyanyian berbahasa Indonesia di Defrosted Love Songs. Gugur Sepatu judulnya. Sekilas, Gugur Sepatu cuma bicarakan alas kaki saja. Padahal itu sebuah pengandaian. Sesungguhnya Gugur Sepatu berkisah akan dua joli yang saling mencinta dan setia. Saking setianya, ketika sepatu kiri mati, sepatu kanan memutuskan habiskan nyawanya.

Suatu hari datang lintah hinggap di sepatu kiri saya
Menghisap darahnya sampai habis
Satu minggu lamanya sepatu kiri saya tidak menari
Hingga akhirnya sepatu kiri mati
Sepatu kanan saya berduka lara
Tidak mau lagi bernyanyi
Sesekali bersenandung lagu kematian
Satu minggu lamanya ia tak bernyanyi
Hingga satu pagi, ia putuskan untuk akhiri hidupnya
Mengikat lehernya dengan tali sepatu

Memang tak lebih dari satu lagu yang berbahasa Indonesia. Tapi nyanyian itu pula yang menjadi juara kemuraman dalam Defrosted Love Son. Apalagi Gugur Sepatu dilagukan dengan gaya berkisah, bukan bernyanyi. Sengsara, nelangsa, derita, pedih, dan sakit, semua ada di Gugur Sepatu.

Betapa hatiku takkan pilu….

Advertisements

2 thoughts on “Kematian dalam Lagu Cinta Tika

  1. You post interesting articles here. Your blog deserves much bigger audience.
    It can go viral if you give it initial boost, i know very useful tool that
    can help you, just search in google: svetsern traffic tips

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s