Secuil Opera dalam Frau

Setumpuk cakram padat (CD) teronggok di meja kerja saya. Kalau dihitung, ada tujuh CD berbalut masing-masing kemasan. Meski cuma tujuh, saya anggap itu bilangan yang cukup banyak untuk CD musik. Karena biasanya saya hanya bergaul dengan CD film. Dan cakram padat ini saya terima dari seorang teman, sebut saja Pak Musik.

Sebulan lebih cakram padat pinjaman tertata rapi di meja kerja saya. Bukan karena kerapian, tapi belum satu CD pun saya putar. Beberapa kali Pak Musik tanya apakah sudah saya dengar lagu-lagu dalam CD itu. Dan jawabannya selalu sama. Belum.

Merasa tak enak dengan Pak Musik yang kerap bertanya, saya putar satu cakram padat. Sesuai rekomendasi dia, terpilihlah Frau sebagai CD pertama yang saya putar.

Pertama terdengar dentingan piano. Judul lagunya, I’m a Sir. Saya belum ngeh dengan lirik lagu yang dibawakan Frau, tapi nada-nada pianonya menarik. Membuat saya menggerakan jari tangan seperti menekan tuts piano atau belagak menjadi konduktor.

Sampai lagu selesai, saya masih belum paham akan liriknya. Sebab lafal Frau tidak terlalu jelas. Apa isi lirik lagu itu baru bisa diketahui setelah saya mengintip teks pada sampul cakram padat. 

Dalam tiap lagunya, perempuan bernama asli Leilani Hermiasih ini pun tidak menggunakan kata-kata yang biasa. Misalnya dalam lagu Mesin Penenun Hujan. Untuk kata “marah”, Frau menggantinya dengan ungkapan “Gerami”. Kata yang jarang digunakan dalam bahasa sehari-hari.

Dan untuk menunjukkan ketidakcocokan dua karakter manusia, Frau memakai kalimat, “Ketika engkau telah tunjukkan semua tentang kebalikan, kebalikan di antara kita.” Perkataan yang agak ngejelimet, tapi menarik. Lagi-lagi karena ungkapan itu bukan kalimat monoton yang sering digunakan masyarakat kita.

Rangkaian kata di lagu-lagu Frau memang unik dan sulit dimengerti. Untuk mengerti maksudnya, lirik yang tercantum pada teks perlu dibaca berkali-kali. Dan dicerna perlahan.

Meski begitu, ada lagu yang memesona. Rat and Cat judulnya. Satu lagu kesukaan saya.

Di sini Frau bercerita tentang kebencian tikus terhadap kucing, dan sebaliknya. Di tengah lagu, Frau mengucapkan “Change, change, change,” yang dipertegas hentakan tuts piano. Penekanan kata “change ” membuat saya bisa merasakan harapan tikus biar kucing berubah, begitu juga si kucing. Apalagi di akhir lagu Frau mengatakan, “Little did they know that they loved…loved each other damn hard.

Ah! Kalimat yang menyakitkan.

Kalau pernah menonton opera atau teater musikal, musik Frau itu mirip dengan nyanyian dalam dua kesenian itu. Rasanya ada opera dalam musik Frau. Ada jalan cerita dan tokoh dalam lirik Frau. Seperti di Rat and Cat.

Ketika mendengar tiap kata dalam lirik, terbayang jika saya tengah duduk di bangku penonton. Ada panggung opera di hadapan saya. Di atasnya ada dua tokoh, tikus serta kucing, yang berakting membenci. Tanpa pernah menyadari kalau keduanya saling mencinta.

Penekanan kata hingga tiga kali tidak cuma dilakukan Leilani pada lagu Rat and Cat saja. Pada Salahku, Sahabatku, Frau juga mengulang lirik “Tersungkur” sebanyak tiga kali, dan “Jatuh”. Seolah dia ingin meyakinkan si pendengar kalau tokoh dalam lagunya benar-benar nelangsa.

Lagu-lagu Frau sendiri sebetulnya mirip dengan musik instrumental. Cocok didengar di kala sendiri. Misalnya waktu malam hari, selepas beraktivitas seharian. Apalagi kalau mendengar sambil memjamkan mata, terasa musik Frau memenangkan pikiran. Yang ada cuma suara piano dan Frau. Bisa membuat saya tertidur.

Frau seorang penyanyi yang harus diakui keunikan suaranya. Bukan cuma lirik lagu saja yang menggambarkan cerita sebuah opera. Suara Leilani juga seperti penyanyi opera. Ingat, opera. Bukan seriosa.

Dari suaranya terbayang sosok perempuan dewasa. Mungkin berusia di atas 28 tahun. Nyatanya, suara Leilani telah menipu kuping pendengarnya, minimal saya. Toh ketika ditelusuri pada mesin pencari Internet, ditemukan kalau Frau bukan, atau lebih tepatnya belum menjadi, perempuan dewasa. Dan wajah mahasiswa Jurusan Antropologi UGM ini sangat muda.

Tapi jangan harap bisa melihat muka Frau pada chasing CD bertajuk Starlit Carousel itu. Soalnya di kemasan album, cuma ada gambar Frau yang tersungkur, tertimpa lukisan, dan tangan kanan memegang ponselnya. Posisi yang sama persis dengan perempuan dalam lukisan itu. Meski wajah Frau menghadap ke luar, dan seharusnya dapat terlihat, nyatanya tertutup oleh rambutnya yang ikal.

Suatu konsep ilustrasi kemasan yang tak wajar. Sama seperti lirik lagunya. Tidak biasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s