Beragam Wisata di Sawarna

Pernah dengar Sawarna? Sawarna adalah sebuah desa di bagian selatan Provinsi Banten. Tepatnya di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, sekitar 230 km dari Jakarta.

Untuk mencapai desa ini, ada dua jalur yang bisa ditempuh. Jalur pertama berawal dari Jakarta-Bogor-Pelabuhan Ratu- Sawarna. Sedangkan jalur kedua, Jakarta-Serang-Malingping-Bayah-Sawarna. Jalur yang banyak dilewati adalah jalur Pelabuhan Ratu. Karena kalau lewat jalur Serang, kita akan menemui jalan rusak yang cukup parah di antara Serang-Melingping, yakni di Pandeglang.

Sebetulnya, sebelum berangkat, saya sudah mendapat wejangan dari seorang teman untuk tidak melewati jalur Serang. Alasannya, ya…karena jalan rusak itu. Tapi karena jadwal keberangkatan bertepatan dengan long wiken, yang biasanya jalur Pelabuhan Ratu-Sukabumi macet panjang, akhirnya saya dan teman-teman memutuskan (nekat) lewat Serang.

Awalnya, kami berencana berangkat sekitar pukul 05.00 WIB dari kosan Widi di Pejompongan. Tapi karena Aad dateng telat, akhirnya perjalanan baru dimulai menjelang jam 06.00 WIB. Dari Pejompongan, kami menuju halte Slipi Jaya menggunakan dua taksi. Satu taksi ditumpangi tiga orang. Widi, Didit, dan Suprie naik di taksi A, sedangkan saya,

Matriphe, dan Suprie di Taksi B. Karena masih pagi, jalanan cukup lancar. Sehingga ongkos taksi tidak mahal, hanya Rp 30 ribu untuk dua taksi.Di halte itu, kami tidak menunggu lama. Sekitar 5 menit, bus yang akan kami tumpangi datang. Bus AC ekonomi dengan tempat duduk 3-2. Karena cukup penuh, kami mengambil bangku deretan paling belakang. Ongkos per orang yang ditetapkan bus itu, Rp 18.000. Tapi si kenek cuma meminta kami membayar Rp 100 ribu untuk enam orang, artinya ongkos didiskon Rp 8000. Potongan yang lumayan membahagiakan.

Lagi-lagi, karena waktu masih pagi, perjalanan yang kami tempuh tidak terlalu lama. Saat jarum jam menunjukan pukul 07.30, bis yang kami tumpangi sudah memasuki terminal Pakupatan, Serang. Dan di terminal ini, rasa kesal serta capek dimulai. Karena saat baru menjejakan kaki di terminal, lebih dari lima calo angkot langsung mengerubungi kami. Lalu setelah kami berhasil dipaksa mereka untuk masuk ke elf yang menuju Malingping, kami masih harus menunggu elf itu ngetem di pintu keluar terminal. Alhasil, sekitar pukul 08.30 WIB, elf yang kami tumpangi baru memulai perjalanannya.

Ya…satu jam terbuang percuma untuk menunggu penumpang lain.

Dan seperti yang saya bilang tadi, selepas Kota Serang, jalanan mulai rusak. Akibatnya, kami yang didalam elf terguncang-guncang tak keruan. Dan sepertinya, sang sopir tidak terlalu peduli dengan keadaan kami yang terguncang dan saling berhimpitan. Buktinya, meski jalanan rusak dia tetap menancap gas dan terus mengambil penumpang.

Jembatan gantung di pintu masuk Desa Sawarna.

Oia, meski elf itu ngebut, bukan berarti waktu perjalanan menjadi sebentar. Selain jarak tempuh yang masih jauh, jalan rusak dan hobi ngetem si sopir membuat perjalanan tetap lama. Bahkan di beberapa jalan, si elf harus berhenti dan memberi kesempatan kendaraan dari arah berlawanan untuk jalan duluan.

Karena jalanan itu memang sedang diperbaiki, jadi hanya satu jalur yang bisa digunakan. Singkat cerita, setelah berpuluh-puluh kilometer, sekitar pukul 12.00 WIB kami sampai di Pasar Malingping, Lebak, Banten. Oia, untuk elf itu, kami membayar Rp 30 ribu per orang.

Untuk melepas kepenatan badan yang sudah diguncang berjam-jam, kami memutuskan untuk tidak langsung melanjutkan perjalanan. Tapi kami mampir dulu di warung nasi. Selain untuk mengisi perut yang kosong sejak pagi, kami juga berniat menanyakan angkutan yang bisa membawa kami ke Sawarna.

Belum banyak kami meminta informasi ke pemilik warung, beberapa sopir angkutan sudah mengerubungi kami. Mereka menawarkan jasa carter sampai ke Sawarna. Harga yang mereka tawarkan Rp 150 ribu.  Saya, orang yang selalu jadi tumbal saat tawar-menawar, langsung menawar dengan angka Rp 100 ribu. Tapi mereka menolak. Dan setelah saya menaikan tawaran menjadi Rp 130 ribu, mereka tetap menolak.

Capek menawar,  kami meninggalkan angkot itu dan jalan menuju masjid terdekat. Selain untuk sholat, kami memanfaatkan waktu untuk diskusi. Apakah kami menggunakan jasa angkot itu, atau ngeteng pakai angkot lain ke Bayah dan menyambung ojek ke Sawarna. Dan saat itu kami juga baru menghubungi Pak Ade di nomor 0819-11282912, pengelola calon penginapan yang akan kami tempati. Syukur, Pak Ade mengatakan masih ada tempat untuk kami menginap di sana.

Di Pantai Sawarna. Karena hujan, sunset jadi tak terlihat.

Setelah berembuk, kami memutuskan naik angkot carteran. Ajaib, si sopir yang awalnya sudah kami tolak, tetap menunggu di depan masjid. Akhirnya perjalanan kembali dilanjutkan. Perjalanan dengan angkot cukup nyaman dibanding dengan elf sebelumnya. Di sisi kanan jalan, selain melihat ombak laut dan sawah yang letaknya berdekatan. Sedangkan di kiri jalan, ada beberapa rumah penduduk di antara pepohonan dan beberapa bukit. Setelah menempuh satu jam perjalanan, kami memasuki kawasan hutan. Tidak lagi terlihat laut, kanan kiri kami menjulang pohon-pohon tinggi. Dan kondisi jalanan yang meliku-liku dan naik turun.

Dan tiba-tiba…mesin mobil terbatuk-batuk. Bahkan beberapa kali si mobil tidak bisa menanjak. Kami dan si sopir mulai panik. Tapi berkali-kali si sopir mengatakan, “Tenang ya mas..ga apa-apa kok mobilnya, mungkin bensinnya agak kotor, sabar ya..,” dengan nada khawatir.

Sampai akhirnya, mobil itu benar-benar berhenti. Di tengah hutan. Padahal hari sudah menjelang sore dan hujan. Meski si sopir terus mengatakn tidak apa-apa, tapi wajahnya terlihat khawatir. Akhirnya dia membuka selang bensin dan beberapa kali memukulkannya ke pintu mobil. Merasa caranya berhasil, si sopir kembali menyalakan mesin mobil. Dan bruuumm…alhamdulillah, angkotnya jalan lagi.

Sekitar pukul 15.00 WIB, kami sampai di Desa Sawarna. Dan untuk mencapai Widi’s Homestay, kami harus melewati jembatan gantung dan berjalan selama 5-10 menit. Oia, di mulut jambatan, ada seorang bapak yang menarik karcis masuk desa, Rp 2.500 per kepala.

Sunrise di belakang Widi’s Homestay.

Ternyata di Widi’s Homestay, hanya tinggal satu kamar dengan dua kasur yang tersedia. Sisanya, hanya ada ruang tamu. Karena kamar yang lain sudah dipakai oleh seorang turis bule dan dua mahasiswa. Kenapa ada bule, karena ombak di Pantai Sawarna memang cocok untuk surfing. Dan banyak turis mancanegara yang surfing di sini. Bahkan di antara mereka ada yang tinggal hingga berbulan-bulan.

Tidak ada pilihan lain, kami harus menginap di sana. Dan disetujui, biaya menginap plus makan pagi-siang-malam per

orang Rp 60 ribu. Harga yang tidak terlalu mahal. Dan dua mahasiswa yang menginap di sana ternyata mengenal Suprie dan Matriphe. Namanya Asad dan Irwan. Kami pun bertukar cerita perjalanan hingga sampai ke Sawarna. Dan ternyata, mereka berdua cukup pekok.

Usai beristirahat beberapa menit, kami pun main ke Pantai Sawarna. Saat itu, hujan masih gerimis. Alhasil, kami harus membawa payung untuk melindungi kamera. Di pantai, kami tidak berenang. Hanya foto-foto di pinggir laut. Karena ombak cukup tinggi dan air sudah pasang.

Hari pertama di Sawarna memang tidak terlalu banyak yang bisa kami kerjakan, selain makan, cerita, dan istirahat. Menikmati beragam wisata Sawarna baru bisa kami lakukan esok harinya. Tepat pukul 06.00 WIB, kami berenam sudah membawa kamera masing-masing untuk mengambil momen sunrise. Tidak semua dari kami membawa kamera digital SLR, contohnya saya yang hanya mengantongi kamera poket Canon IXUS 95 atau Widi yang mambawa kamera handphone Nokia E71.

Meski di dalam goa, tapi tetap narsis.

Usai jeprat-jepret sunrise, kami langsung sarapan. Setelahnya, bersama mas Yudha, anak Pak Ade, kami memulai wisata Sawarna. Tujuan pertama kami adalah caving alias selusur goa. Untuk sampai ke sana, kami harus jalan sekitar 1,5 km. Melewati sawah, pinggir kali, jembatan gantung, kebon pisang, dan beberapa kuburan.

Jumlah goa di Sawarna sekitar 28 buah. Dan goa yang kami kunjungi kali ini adalah Goa Lalay atau kelelawar. Karena di goa ini memang banyak kelelawarnya. Menurut mas Yudha, panjang goa ini belum diketahui. Karena dulu, beberapa anak Mapala UI dan penduduk Sawarna pernah menyelusuri Goa ini. Dan meski mereka sudah jalan selama dua hari, ujung goa itu tidak kunjung terlihat.

Tinggi Goa Lalay sekitar empat meter. Permukaannya ditutupi air setinggi paha dan lumpur serta karang. Diterangi cahaya dari satu petromak, pelan-pelan kami menjejakan kaki. Beberapa kelelawar berukuran kecil terlihat terbang di langit-langit goa. Selain itu, tidak terlihat makhluk hidup apa pun, selain kami bertujuh.

Memang dasarnya bukan cave explorers, baru masuk sekitar 500 meter, kami sudah memutuskan untuk kembali keluar goa. Di mulut goa, kami bertemu kelompok amatiran (seperti kami) yang akan menyusur goa juga. Selain mereka, ada dua pemuda desa yang bertugas menarik bayaran turis yang masuk goa. Harganya sama dengan masuk Desa Sawarna, Rp 2.500 per kepala.

Pohon ini kami temui di satu bukit saat sedang tracking.

Dari Goa Lalay, tujuan selanjutnya Lagun Pari. Tapi untuk mencapai lagun itu, kami harus tracking dulu. Melewati kebon, sawah, hutan Cimonyet (yang katanya di zaman dulu banyak monyetnya), sawah lagi, lumpur (yang membuat sendal Eiger saya putus), tanjakan curam, dan turunan licin. Hasilnya, peluh membanjiri badan dan lumpur mengotori celana serta baju.

Tapi semua itu terbayar saat kami sampai di Lagun Pari. Melihat pantai biru nan bersih, saya pun langsung berlari dan teriak, “Pantaiiiiiiiii!!!” lalu…’cemplung’, saya basahi seluruh badan dengan air laut itu

Di Lagun Pari, ombaknya cukup tinggi tapi tidak sebesar di Pantai Sawarna. Dan pemandangan, kebersihan, serta suasananya, saya bilang, jauh lebih bagus dibanding Pantai Kuta, Pantai Sanur, atau Pantai Padang. Benar-benar indah.

Main air di Lagun Pari.

Sekitar pukul 11.00 Wib, kami menyempatkan diri meminum air kelapa dulu. Kelapa yang kami pesan itu, diambil langsung dari pohonnya saat kami memesan.

Hilang dahaga, kami pun meninggalkan Lagun Pari. Menyusuri karang, kami berjalan menuju Tanjung Layar. Dinamakan Tanjung Layar karena dua karang di tempat itu berbentuk layar kapal.

Singkat cerita, kami kembali ke Desa Sawarna. Dan sedikit cerita tentang mas Yudha, selain membantu ayahnya menjadi guide, dia merupakan pro surfer. Bahkan Billabong Australia sudah meng-hire dia. Dan karena Pak Ade dan mas Yudha tidak menerapkan tarif guide, kami pun memberi imbalan jasa (hanya) Rp 50 ribu. Terlalu murah dengan jarak tempuh yang sudah kami lalui, tapi apa daya, uang sudah menipis dan tidak ada ATM di sana.

Di rumah Pak Ade, kami mulai membagi antrian, siapa yang mandi duluan, siapa yang makan siang, dan siapa yang packing. Karena tepat pukul 14.00 WIB, kami harus memulai perjalanan pulang.

Saat air laut surut, kita bisa berjalan sampai ke Tanjung Layar.

Oia, untuk perjalanan pulang, kami berencana melalui jalur Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Karena berdasar pengalaman Asad dan Irwan yang sebelumnya berangkat lewat jalur itu, lalu lintas tidak terlalu macet. Dan untungnya, Pak Ade menawarkan mobil travel untuk mengantarkan kami sampai satu titik di Jakarta. Harga yang dipatok adalah Rp 750 ribu. Awalnya, kami agak keberatan dengan harga itu. Karena kami hanya berenam. Tapi setelah berpikir, berembuk, dan berhitung, kami memutuskan menggunakan jasa travel itu. Alasannya satu, tenaga kami sudah cukup terkuras untuk naik elf lagi.

Akhirnya kami berangkat, sekitar pukul 15.00 WIB. Selain kami, ada tiga orang yang ikut menumpang sampai Pelabuhan Ratu. Dan ternyata jalur Pelabuhan Ratu jauh lebih nyaman dibanding jalur Serang. Selain jalanan mulus, arus lalu lintas juga tidak macet. Sebetulnya di daerah Sukabumi kami sempat bertemu macet, tapi pak sopir langsung mengambil jalan tikus.

Sekitar pukul 19.00 WIB, kami sudah memasuki Jakarta. Dan ya….langsung ketemu macet di Bundaran Semanggi. Oia, beberapa hari setelah perjalanan itu, iseng-iseng Matriphe membuka goggle maps dan mencari tahu seberapa jauh jarak tempuh tracking kami saat di Sawarna itu. Dan ternyata, sangat jauh.

Rute tracking, dari Widi’s Homestay-Goa Lalay-Lagun Pari-Tanjung Layar, dan kembali ke penginapan.

Advertisements

2 thoughts on “Beragam Wisata di Sawarna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s