Perjalanan saya kali ini menuju Kabupaten Aceh Selatan, tepatnya ke Kecamatan Trumon. Saya memulai perjalanan dari Bandara Polonia, Medan. Kenapa dari sana ? Karena sehari sebelumnya saya ada acara di Tanah Karo tersebut. Ada dua cara menuju Aceh selatan dari Kota Medan. Pilihan pertama melalui jalur darat. Bila memilih cara ini, kita akan sampai di Aceh Selatan setelah menempuh 10 jam perjalanan melewati bukit, lembah, dan hutan. Mesti memakan waktu banyak tapi biaya yang dikeluarkan nggak begitu besar. Paling-paling hanya untuk uang bensin saja
Nah, ada pilihan transportasi lain yang waktu perjalanannya nggak lama, yakni menggunakan jalur udara. Dari Bandara Polonia ke Bandara Cut Ali, Aceh Selatan, waktu yang dibutuhkan hanya 45 menit. Dan transportasi yang dapat digunakan adalah pesawat kecil, contohnya jenis Cessna 208B seperti yang saya tumpangi. Pesawat dari perusahaan penerbangan Susi Air ini membawa saya dan rombongan sekitar pukul 11.30 WIB.
- Siap terbang menuju Aceh Selatan
- intip Aceh dari atas
- mejeng bareng pak polisi
Meski ukuran pesawat itu kecil, tapi peralatannya cukup canggih loh. Bahkan interior dalemnya cukup nyaman. Di depan bangku bagian belakang, ada cukup space untuk menaruh tas atau mengambil gambar pemandangan di bawah sana. Penumpang pun diberikan service makanan kecil dan air mineral. Pokoknya pelayanannya lebih bagus dari pada pesawat selain Garuda indonesia
Tapi, kalau pesawat bertemu tekanan udara yang kosong, maka pesawat akan terguncang cukup kuat. Dan itulah yang terjadi dalam perjalanan itu. Saat saya dan teman-teman ambil gambar, tiba-tiba pesawat tergoncang, rasanya seperti naik jetcoaster. Spontan seluruh orang duduk manis di bangku masing-masing dan memasang seatbelt.
Meski sempat mengalami guncangan, akhirnya kami mendarat dengan selamat di di Bandara (perintis) Cut Ali. Dan ternyata sudah banyak orang yang menunggu kedatangan kami. Bahkan Bupati Aceh Selatan, Husni Yusuf juga ada. Ndak usah kaget, pak bupati dan warga itu bukan senang karena saya dateng, tapi mereka menunggu Menteri Kehutanan, MS Kaban yang ada dalam rombongan itu
Yah, singkat cerita dari bandara kami langsung ke Kecamatan Trumon. Jarak perjalanannya seperti Jakarta-Bogor, sekitar 40 km dan waktu perjalanannya kurang-lebih 1 jam minus macet
Kendaraan yang saya tumpangi adalah Kijang Inova milik Pemerintah Daerah Aceh Selatan. Dan selama perjalanan, saya disuguhkan pemandangan Bukit Barisan pada sisi kanan jalan (bagian barat) sedangkan di sisi kiri (bagian selatan) terbentang luas Samudera Hindia. Saya juga melintasi hutan lindung Leuser dan Trumon.
Kondisi jalanan di sana tidak jauh berbeda dengan Jakarta, berlapis aspal. Namun rumah penduduknya hanya beberapa yang terbuat dari batu bata, lainnya masih dibangun dengan kayu. Meski rumah kayu, tapi mereka memiliki parabola. Menurut Pak Haslim, supir yang mengantarkan saya, di Aceh Selatan tidak ada pemancar jadi diperlukan parabola untuk menangkap siaran televisi.
Oia, televisi itu merupakan satu-satunya hiburan penduduk di sana. Gimana nggak, di kabupaten penghasil pala ini sama sekali nggak ada yang namanya bioskop, taman bermain, mol, atau pun tempat penyewaan ps. Sesekali ada pasar malam yang didatangkan dari Medan, tapi itu juga nggak tentu. Terkadang setahun sekali, tapi nggak jarang juga dalam setahun sama sekali tidak ada pasar malam.
Jarak 10 menit dari bandara, saya melewati Tugu Simpang Empat Kota Fajar. Menurut salah satu teman perjalanan saya, Kepala Staf Kodim Mayor Arjuni, pada masa konflik dulu (tahun 90-an) puluhan warga transmigran dibunuh oleh kelompok sparatis di simpang 4 itu. Setelah dibunuh, kelompok sparatis mengubur mereka di Pantai Kuala Ba’u. “Itu gerakan awal yang dilakukan GAM di Aceh Selatan,” cerita dia.
Namun menurut dia, lokasi yang paling menyeramkan saat itu adalah jalur Rantau Sialang. Di kiri-kanan jalur ini sama sekali nggak ada rumah penduduk. Tapi penuhi dengan ilalang, pohon, dan semak. Di sini, tentara dan GAM sering main kucing-kucingan. Salah satu mereka bersembunyi di hutan itu. Dan bila yang lainnya lewat maka akan diserang.
“Pernah ada dua anggota kami yang melintas di sini menggunakan motor, naasnya mereka bertemu GAM dan kepala kepala keduanya dipacung. Di sini GAM juga sering melakukan sweeping, kalau salah satu yang di-sweeping itu berkerabat dengan tentara maka akan diculik.”
Sedangkan menurut cerita Pak Haslim, sangking menyeramkannya kondisi kala itu, semua pegawai negeri sipil tidak ada yang mengenakan pakaian dinasnya. Karena para PNS itu salah satu sasaran penculikan. Saat itu, penduduk juga diwajibkan memasang bendera Merah-Putih oleh tentara.
“Kalau nggak memasang akan dianggap GAM dan ditangkap tentara. Tapi kalau GAM tahu kita memasang bendera Merah-Putih, ya kta diculik mereka. Jadi saat itu para penduduk main kucing-kucingan dengan keduanya.”
Oia, di salah satu sisi pantai, ada bekas Pelabuhan Lhok Jamin. Pelabuhan ini digunakan untuk mengemas kayu yang diambil dari Bukit Barisan untuk dibawa ke Cina oleh PT Gruti milik Mr. Lie. Perusahaan kayu ini sudah berdiri sejak tahun 80-an. Namun pada awal konflik para pekerja sering mendapat teror dari kelonpok sparatis sehingga aktivitas menebang pohon dihentikan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 km, saya dan rombongan sempat mampir di Kantor Kecamatan Trumon. Lagi-lagi puluhan masyarakat sudah menunggu. Kali ini penyambutan dilengkapi dengan upacara adat pesiju. Pada upacara ini, tamu disambut sepasang muda-mudi yang berperan sebagai dayang dan pendamping tamu. Keduanya memberikan rangkaian kalung bunga kepada sang tamu. Sedangkan para pemuka desa memberikan doa disertai menaruh sejumput ketan dan air yang dicipratkan menggunakan secarik daun pandan.
Perjalanan pun kembali dimulai. Kali ini jalan yang dilewati tidak mulus seperti sebelumnya. Batuan lepas dan tanah merah menjadi alas jalur ini. Bahkan jembatan penyeberangannya tidak lagi disangga beton seperti jembatan sebelumnya. melainkan hanya dialasi kayu dan batang pohon kelapa. Kondisi ini menunjukan bila saya sudah di Desa Teupin Tinggi, Kecamatan Trumon.
Meski kondisi jalannya nggak bagus, tapi jalur itu masih bisa dilewati 1 mobil. Sedangkan di ujung desa, akses jalan mulai tertutup ilalang dan semak. Padahal, setelah desa itu masih ada Kemukiman Bulohseuma yang terdiri dari 3 desa, yakni Desa Rakit, Ujung Padang, dan Kampung Tengah. Yang bikin miris, karena akses jalan tertutup maka sekitar 700 penduduk kemukiman itu kondisinya terisolasi.
Sebenarnya mereka nggak sepenuhnya terisolasi. Untuk mencapai kecamatan lain, seperti Kecamatan Trumon, penduduk kemukiman itu bisa melewati jalur laut. Waktu tempuhnya sekitar 3 jam atau disesuaikan dengan tinggi gelombang. Tapi saat musim angin barat alias musim air laut pasang dan angin berhembus dari laut, penduduk tiga desa ini pun terisolasi penuh.
Sedangkan bila akses jalan itu kembali dibuka dan dibersihkan dari ilalang, jarak tempuh penduduk Bulohseuma ke Kecamatan Trumon hanya sekitar 1/2 jam. Sayangnya peningkatan kondisi jalan itu mendapat tentangan dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Menurut mereka, pembukaan jalan yang melintasi hutan lindung Trumon dan cagar alam itu dapat mempermudah akses pencurian kayu. Sedangkan menurut Kaban, pencurian kayu itu bukan alasan tidak dibukanya akses jalan untuk masyarakat.
“Orang kalau mau mencuri ya mencuri saja, tidak perlu harus ada akses jalan. Boleh menjaga kayu dan alam, tapi jangan korbankan masyarakat seperti itu.”
Sayangnya hari sudah menjelang sore, rencana untuk melihat akses jalan yang terakhir pun ditahan karena saya (yang pasti rombongan pak menteri) harus segera ke Bandara Cut Ali untuk kembali ke Medan.
Oia, sedikit cerita, terutama untuk pecinta durian, di Aceh Selatan harga buah beraroma menyengat itu hanya Rp 5 ribu. Bahkan salah satu teman saya membeli 60 buah durian seharga Rp 200 ribu tanpa menawar. Sedangkan untuk pecinta hewan, di sana kambing, sapi, bahkan monyet berkeliaran di jalanan. Apalagi kalau kalian ke Gunung Panorama Hatta, puluhan monyet akan menunggu di pinggir jalan untuk meminta kacang atau pisang. Dan nggak usah khawatir untuk main ke sana, karena keadaan sudah cukup kondusif. Tapi untuk pengguna GSM selain Telkomsel akan cukup susah mencari sinyal di sana. Jadi, silahkan main-main ke sana




gak ada fotonya, nil?
By: cK on June 22, 2009
at 1:19 pm
woh….fotonya banyak…
tapi saya belum sempet ngedit dan aplot..
jadi dimohon sabar yah
By: cornila on June 22, 2009
at 1:54 pm
Jadi, kalo bikin rental ps di sana laku?
By: Obi-Wan on June 22, 2009
at 1:30 pm
skrinshut-nya mana ?
By: aad on June 22, 2009
at 1:52 pm
Weeeh, murah banget duriannya. kamu kon ndak bawa buat oleh2 sih?
By: -GoenRock- on June 23, 2009
at 4:55 pm
saya orang aceh selatan..
mau durian yang paling murah lagi..
5ribu dua buah..
belik nya langsung dibawah pohonnya..
he he he he he
By: akmal, on July 18, 2009
at 3:17 pm