Saya di Semaraaaannngggg!!!!! Itulah kata-kata yang saya ucapkan saat menginjakan kaki di Kota Lumpia itu. Jujur, saat itu saya seneng banget. Gimana nggak, saya belum pernah main ke kota ini. Dan akhirnya, setelah 27 tahun hidup di Indonesia saya bisa mengunjunginya.
Tapi kedatangan saya ke Semarang tidak bisa dikatakan mulus-mulus saja. Banyak hal yang bikin saya elus-elus dada
. Hal pertama terjadi saat saya menuju Stasiun Gambir dari arah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kala itu jam tangan saya menunjukan pukul 17.30 WIB. Prediksi saya, jarak antara lokasi start dan finish yang tidak begitu jauh hanya akan menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Ternyata perhitungan saya salah. Penyakit Jakarta kumat, MACET!!!
Bahkan busway yang saya tumpangi tidak berjalan dengan kecepatan seperti biasanya. Kecepatan saat itu di bawah 40 km/jam karena harus mengantri dengan busway-busway di depannya. Akhirnya waktu tempuh busway yang biasanya hanya 15 menit molor jadi 30 menit.
Dan perjuangan mencapai Gambir masih berlangsung.
Setelah turun di halte Monumen Nasional, saya berharap ada abang ojek yang bisa mengantar ke stasiun. Kenapa saya memilih ojek, karena sekitaran Jalan Merdeka Barat kala itu macet total. Harapannya dengan ojek saya bisa menyusup di antara mobil. Sayangnya, jam sudah menunjukan pukul 18.30 WIB. Para tukang ojek yang biasa mangkal di pinggir halte pun sudah meninggalkan pangkalan.
Akhirnya dengan sangat terpaksa saya memberhentikan blue bird. Untunglah Tuhan masih berbaik hati. Meski menggunakan taksi tapi saya bisa mencapai stasiun 5 menit sebelum jadwal keberangkatan. Di stasiun, tepatnya di depan loket penjualan tiket saya bertemu dengan teman-teman seperjalanan. Ada Tika, Gembul, tetangga sebelah, Pakde Mbilung dan Bude Jeni.
Mengingat waktu yang sudah mepet, kami pun langsung menuju peron 3 di lantai 2 Stasiun Gambir. Tapi sayang seribu sayang…hasrat kami untuk segera numpang KA Sembrani jurusan Gambir-Surabaya, yang berhenti di Semarang, harus dipendam dulu. Penyebabnya kereta eksekutif itu mengalami kerusakan mesin di Stasiun Kota. Jadilah petugas stasiun meminta maaf dan memohon kami untuk sabar menunggu.
Yah, kesabaran saya benar-benar diuji, setelah lebih dari lima kali pak petugas meinta maaf, akhirnya kereta datang sekitar pukul 20.00 WIB. Dan baru memulai perjalanan menjelang pukul 20.30 WIB. Yah…walaupun molor 2 jam, tapi saya tetap antusias (entah dengan teman-teman yang lainnya). Karena (lagi-lagi) ini pertama kalinya saya naik kereta Jakarta-Jawa Tengah
.
Sayangnya, meskipun telah membayar tiket sebesar Rp 170 ribu, pelayanan yang saya dapat kurang memuaskan. “Komplain” saya yang pertama tentang sajian makan malam. Menu kali itu adalah nasi putih, daging rolade, telur, dan gudeg. Kenapa saya komplain, alasannya : jumlah nasi hanya untuk tiga kali suap, nasinya pun dingin (seperti baru keluar dari kulkas), dan sangat keras. Daging rolade-nya pun cukup asin dan bumbu mericanya terlalu banyak. Dan yang saya tahu, hanya Gembul yang mampu menghabiskan menu malam itu
. Untunglah kami sudah ngemil menu hoka hoka bento sebelum berangkat, jadi tidak terlalu kelaparan meski ga makan sajian kereta itu.
Hal kedua yang bikin saya misuh-misuh itu suhu udara di kabin. Wuih, dingin pisan. Kali ini bener-bener kayak di kulkas. Saat saya intip termometer di dinding kabin, ya ampun….ternyata suhu saat itu antara 19-22 derajat celcius. Pantas saja menggigil. Selimut dari pramugara pun baru datang menjelang pukul 22.00 WIB, setelah cukup lama kami kedinginan.
Pelayanan yang paling buruk pun terjadi menjelang kereta masuk Kota Semarang. Dua orang pramugara datang ke kabin untuk membangunkan penumpang. Tapi cara mereka membangunkan sangat tidak menghormati konsumen. Mereka membangunkan dengan nada membentak. Bahkan satu diantara mereka meminta selimut yang saya gunakan sebelum saya benar-benar terbangun. Yang bikin tambah kesel, ternyata kami dibangunkan sekitar 1 jam sebelum sampai Stasiun Tawang. Bisa dibayangkan seperti apa kami menahan hawa dingin itu.
Akhirnya kami sampai di stasiun sekitar pukul 04.00 WIB.Gembul pun langsung meminta dua taksi untuk mengantarkan kami. Tujuan pertama adalah mengantar Pakde Mbilung dan Bude Jeni ke Hotel Premier Santika. Lalu menuju Wisma Pemda tempat yang telah disediakan untuk kami. Pak supir pun mengantarkan kami ke Wisma GKPRI di Jalan Ahmad Yani. Dengan nada meyakinkan dia mengatakan, “Ini satu-satunya wisma pemda di Simpang Lima, mas”. Kami pun percaya.

Datang ke semarang, tak tau jalan, lalu menggelandang..
Tapi tenyata apa yang terjadi….setelah Tika menghubungi salah satu teman, kami baru tahu kalau pak supir itu telah salah mengantarkan. Sialnya, supir itu sudah pergi meninggalkan kami di subuh buta. Kami pun terdampar di Simpang Lima. Setelah bertanya ke seorang bapak yang sedang lari pagi dan bantuan GPS, sedikit-sedikit kami bisa meraba arah perjalanan.
Eh, tapi kami ga langsung menuju ke wisma. Mengikuti saran Gembul (dan keinginan perut), kami “sarapan” nasi ayam khas Semarang dulu di emperan Simpang Lima. Dan di sana kami bertemu “dewa penyelamat”, dia adalah salah satu anak cah andong, tapi saya lupa namanya. Dari dia kami tahu alamat lengkap Wisma Pemda itu, yakni di Jalan Menteri Supeno.
Akhirnya, pukul 05.00 WIB kami sampai di wisma. Setelah beberapa menit bercengkrama dengan beberapa teman yang sudah di sana, kami bertiga memutuskan tidur, sedangkan Tika melanjutkan pekerjaannya yang sempat terbengkalai. Yah, meski perjalanan itu menguras tenaga dan cukup menyebalkan tapi kami rela menjalaninya. Semua itu kami lakukan untuk menghadiri pernikahan Fany dan Yudhis
.
So, (untuk Fany dan Yudhis) selamat mengarungi kehidupan baru… semoga kalian bisa membentuk keluarga yang disayangi Allah

kemaki!
aku ra’ melu…
By: mastongki on June 17, 2009
at 3:13 am
gyahahahha~ ternyata perjuangannya cukup berat
By: didut on June 17, 2009
at 9:39 am
hihi…ndoyok adalah fitur (dance)
By: cornila on June 17, 2009
at 11:15 am
Emang 27 tahun sebelumnya tinggal di mana?
By: Obi-Wan on June 17, 2009
at 9:47 am
jawa barat dan sekitarnya
By: cornila on June 17, 2009
at 9:19 pm
kita kebalik rute nya yah …
) dari jogja ke semarang…
) tapi overall seru!
By: suprie on June 17, 2009
at 10:41 am
sekarang jadi gelandangan di semarang toh ??
By: aad on June 17, 2009
at 11:34 am
oleh2nya ma nielaaaa..
btw, kok kawinan arry ga dateng jeung??
By: ririe on June 17, 2009
at 11:37 am
woh..udah abis rie
sori, waktu arry nikah gw lagi dapet giliran liputan..
By: cornila on June 17, 2009
at 9:21 pm
nilaaa… makasih ya udah dtg..
ntar aku bawain isi goodie bag yg ilang besok2 ya…
By: Fany on July 6, 2009
at 3:59 pm